Orang Indonesia Sering Menggunakan Cara Ini Saat Mendidik Anak, Nyatanya Salah dan Merusak Karakter Anak!

Suatu hari terlihat ada seorang anak laki-laki yang sedang melewati taman bersama ibunya dan melihat teman-teman sebayanya sedang bermain bola dengan asyiknya. Anak laki-laki itu langsung merengek minta dibelikan bola kepada sang ibu. Ibu berkata,”Oke, sekarang kita pulang dulu dan setelah kamu selesai mengerjakan PR, baru mama beliin ya.”

Tidak bisa segera mendapat bola yang diinginkan, anak itu langsung menangis dengan keras. Ibu lalu mengeluarkan gadgetnya dan membiarkan anaknya bermain sejenak dengan gadget itu di bangku taman, baru anaknya berhenti merengek dan menangis. Namun, tak lama kemudian saat sang ibu sedang meninggalkan sang anak sejenak ke toilet, diam-diam anak laki-laki itu mencuri bola dari anak-anak lain.

Sponsored Ad

Si empunya bola pun langsung menangis dan lari ke kedua orang tuanya mengatakan,”Anak itu telah mencuri bola milikku!” Siapa sangka sang ayah malah berkata,”Sudah tidak apa-apa. Kan cuma bola aja, gak seberapa. Nanti papa belikan yang lebih mahal ya!”

Sponsored Ad

Tidak memberi penjelasan apa-apa terhadap anak, namun langsung menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah sepertinya bukan cara yang tepat. Orang tua harus sadar bahwa uang memang hal yang penting, tapi tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang.

Lalu ada pula contoh lainnya, di mana ada orang tua dari gadis berusia 16 tahun bernama Liu Siqi. Liu Siqi sejak kecil sangat dimanja, dan kedua orang tuanya pasti akan memberikan apa saja yang sang anak inginkan. Setiap bulannya, Liu Siqi mendapat uang jajan hingga ratusan juta. Di media sosialnya, Liu Siqi pernah mengatakan bahwa dalam sehari ia pernah menghabiskan uang hingga puluhan juta.

Sponsored Ad

Setelah beranjak dewasa, Liu Siqi pernah mencoba membuka bisnis casing gadget, namun bisnisnya ini tidak berhasil dan membuatnya rugi besar. Walau sudah mengalami kerugian, tapi tetap saja Liu Shiqi bisa meminta uang pada orang tuanya untuk mentraktir teman-temannya makan di restoran mewah pada hari ulang tahunnya.

Sponsored Ad

Tanpa disadari, kedua orang tua Liu Shiqi hanya berhasil mendidik Liu Shiqi menjadi seseorang yang hanya bisa menghamburkan uang saja, namun tidak bisa berbuat hal yang lainnya. Selain itu, Liu Shiqi adalah anak yang tidak suka belajar dan tidak pernah mau mencoba sesuatu. Orang tua Liu Shiqi mengatakan bahwa setiap orang tua punya cara berbeda untuk menyayangi anaknya, dan mereka menyatakan bahwa inilah cara mereka mencintai Liu Shiqi.

Jika orang tua memang memiliki kemampuan untuk menyayangi anak-anaknya dengan uang atau membuat anak-anak hidup dengan kelimpahan materi, hal ini masih bisa sedikit diterima. Yang membuat orang semakin geram adalah di mana kondisi orang tua tergolong pas-pasan, tapi tetap berusaha memanjakan anak agar bisa melalui hidup yang mewah.

Sponsored Ad

Contohnya seperti kasus satu ini. Ada seorang anak, bernama Anton, ia melihat bahwa teman sekelasnya baru saja mengganti ponselnya dengan model terbaru. Anton yang masih menggunakan model lama merasa sangat malu dan kehilangan muka. Ia lalu meminta uang pada orang tua untuk mengganti ponselnya. Namun, kedua orang tua berkata,”Nanti dulu ya, kan baru kemarin bayar uang bulanan sekolah.”

Anton tidak terima dan akhirnya bertengkar dengan kedua orang tuanya. Anton lalu mengurung diri di kamar dan tidak mau makan sama sekali. Takut sang anak kenapa-kenapa, kedua orang tua akhirnya mengambil sebagian uang tabungan dan memenuhi permintaan Anton untuk mengganti ponselnya.

Sponsored Ad

Standar hidup masyarakat sekarang ini terus meningkat setiap waktunya. Banyak orang tua, terlepas dari kondisi mereka mampu atau tidak selalu berusaha untuk memenuhi semua tuntutan material anak-anak tercinta. Namun, kebanyakan orang tua yang terlalu memanjakan anak dari segi materi, justru mendapat balasan yang tidak menyenangkan.

Sponsored Ad

Anak-anak malah semakin sering bertindak seenaknya, memaksakan kehendak dan tidak pernah menghargai jerih payah orang tua. Seakan-akan anak merasa bahwa memang sudah tugas orang tua untuk membahagiakan anak, tapi anak tidak pernah berpikir bagaimana rasanya bersyukur atas apa yang ada. Setiap orang tua nampaknya sudah harus sadar bahwa mencintai anak bukan berarti harus memanjakannya secara berlebihan.

Sponsored Ad

Kita bisa belajar dari kisah artis Taiwan satu ini, yaitu Wu Zun. Wu Zun sendiri adalah anak dari keluarga kaya dan terpandang di Brunei. Sang ayah memiliki perusahaan mobil dan menjadi perusahaan yang paling populer di Brunei. Namun, Wu Zun mengandalkan dirinya sendiri untuk terjun ke dunia entertain Taiwan.

Setelah lulus kuliah, Wu Zun tidak pernah meminta uang lagi kepada orang tuanya. Kemudian, ada salah satu teman yang menawarkan dirinya untuk menjadi model. Dari sanalah perlahan-lahan Wu Zun mulai masuk ke dunia entertain dan akhirnya bergabung dengan grup Fahrenheit. Di tahun 2009. Wu Zun lalu menikah dengan teman sekelasnya, yang juga berasal dari keluarga terpandang. Ayah mertuanya bahkan adalah ahli pijat dan ahli gizi untuk saudara keempat Sultan Brunei.

Sponsored Ad

Tahun 2011, Wu Zun menjadi seorang ayah dan dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Neinei. Saat Neinei sudah berusia 3 tahun, Wu Zun membawa anak perempuannya itu mengikuti sebuah program reality show. Terlihat Neinei yang sudah menginjak usia 3 setengah tahun masih mengenakan popok dan duduk di stroller, selain itu Wu Zun masih harus menggunakan bantuan permen saat menyuapi Neinei. Melihat hal ini banyak orang berkata,”Jangan terlalu memanjakan anak. Jika terus begini anakmu akan menjadi sangat manja!”

Lalu, 4 tahun berlalu, Wu Zun kembali membawa Neinei dan adiknya mengikuti acara Where Are We Going, Dad Season 5. Di usia sudah menginjak 7 tahun justru sama sekali tidak terlihat kalau Neinei adalah anak yang manja! Saat Wu Zun tidak ada, Neinei sama sekali tidak merasa takut, bahkan ia terlihat begitu terlatih saat diberikan tugas dan tanggung jawab untuk menjaga sang adik.

Apalagi saat sang adik sedang sakit, Neinei berkata,”Obat ini tidak pahit kok, rasanya justru sangat enak. Ayo minum, biar kita bisa main bersama lagi.” Neinei sepertinya meniru tindakan Wu Zun saat tengah merayu Neinei agar mau makan saat Neinei masih kecil dulu. Kemudian suatu hari Neinei dan adiknya mengatakan bahwa sarapan pada hari itu tidak enak, lalu mereka memberikan roti mantau di meja semuanya kepada sang ayah.

Wu Zun lalu memakan semua roti mantau itu. Neinei lalu bertanya,”Ayah suka roti ini? Kok Papa mau makan semuanya?” Wu Zun lalu menjawab,”Banyak orang di dunia ini yang saat lapar tapi tidak ada makanan, bahkan sesuap beras pun tidak ada. Maka dari itu kita tidak boleh membuang-buang atau menyiakan makanan yang ada.” Mendengar kata-kata sang ayah, Neinei dan Max langsung membantu sang ayah menghabiskan roti mantau itu.

Wu Zun mengatakan bahwa ia dan sang istri lebih suka menggunakan contoh nyata pada anak-anaknya. Saat anak merasakannya langsung, hal ini akan lebih mudah dimengerti daripada hanya terus mencekoki anak dengan teori atau berbagai hal yang boleh dan tidak boleh. Wu Zun juga sering menegaskan pada anak-anaknya walau memiliki uang atau hidup berkecukupan tidak boleh menyia-nyiakan hal apapun yang ada di dunia ini.

Selain Wu Zun, pasangan Deng Chao dan Sun Li pun memberikan tips mendidik anak. Mereka mengatakan bahwa sebagai artis, dibandingkan orang tua lain, waktu mereka bersama anak sudah sangat sedikit. Maka, mereka benar-benar harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin bersama dengan anak.

Sun Li dan Deng Chao memang tetap membiarkan anaknya untuk bermain gadget, tapi Sun Li hanya memberikan waktu sekitar 15-30 menit. Mereka berharap agar anak jangan terlalu ‘gila’ terhadap gadget dan setiap ada waktu, Sun Li dan Deng Chao pasti akan mengajak anaknya untuk bermain di luar. Mereka ingin agar anaknya merasakan sendiri bahwa hal di luar gadget itu justru jauh lebih menarik!

Di sinilah Sun Li dan Deng Chao mengatakan bahwa peranan orang tua sangat penting. Proses tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab orang tua. Agar anak tidak ketagihan bermain gadget, orang tua yang harus turun tangan langsung menemaninya bermain, membuat kerajinan tangan, memasak, membaca buku atau hal-hal lainnya. Hal ini juga sangat berguna untuk mempererat hubungan orang tua dan anak.

Banyak orang berpendapat bahwa sosok orang tua yang benar-benar bisa mendidik anak pastinya menggunakan uang pada hal-hal yang tidak terlihat dan tentu saja jauh lebih berguna, tidak hanya untuk memuaskan tuntutan materi semata. Maka dari itu orang tua harus bisa mengajari anak bagaimana membedakan mana yang baik dan buruk, membuat mereka bisa melihat dunia ini dengan lebih luas dan dari berbagai sudut pandang.

Ada seorang ahli berkata,”Terlalu memanjakan anak akan membawa petaka, sedangkan bertindak tegas adalah bentuk cinta yang sebenarnya. Orang tua yang terlalu memanjakan anak, malah akan membuat anak-anaknya menderita di kemudian hari.”

Apakah kamu setuju dengan poin-poin yang dijelaskan di atas? Menurut kamu bagaimana mendidik anak yang benar???


Sumber: Toutiao

Kamu Mungkin Suka